Sejarah

Minggu, 18 Oktober 2009

"Nilai-Nilai kepahlawanan Dalam Pembentukan Karakter Bangsa”,

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia telah dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun. Dalam masa penjajahan Jepang Indonesia sangatlah menderita pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Karena pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Tragedi tersebut menyebabakan Indonesia mengalami kekosonagan politik. Maka dalam kesempatan itu pihak generasi muda menginginkan suatu pernyataan kemerdekaan, hingga terjadi penculikan Hatta dan Soekarno yang dibawa ke garnisun Peta di Rengasdengklok. Kemudian mereka dikembalikan ke Jakarta dengan syarat menyatakan kemerdekaan yang dikirim oleh Maeda. Sepanjang malam tanggal 16 Agustus 1945 pernyataan kemerdekaan dirancang pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi Soekarno membacakan pernyataan kemerdekaan tersebut. Dihadapan sekelompok orang yang relatif sedikit, diluar rumahnya sendiri bendera merah putih dikibarkan dan dikumandangkan lagu” Indonesia Raya”. (M.C Ricklefs 1998:315)

Dalam masa-masa pembentukan negara yang adil dan makmur. Pihak Jepang merebut kembali Semarang pada tanggal 14 Oktober 1945 kira-kira 500 orang Jepang dan 2000 rakyat Indonesia tewas dalam pergolakan tersebut (M.C Ricklefs 1998:326). Tidak hanya disemarang pertempuran terjadi di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 yang disebabakan pasukan Inggris memulai aksi pembersihan berdarah sebagai pembalasan atas terbunuhnya A.W.S. Mallaby. Dibawah lindungan pembom dari udara dan laut dalam menghadapi perlawanan Indonesia yang fanatik. Ribuan rakyat Indonesia gugur dan ribuan lainya meninggalkan kota yang telah hancur ( M.C Ricklefs 1998: 326).

Para pahlawan bangsa telah berhasil mengantarkan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan, dengan dibimbing semangat nasionalisme, patriotisme, dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Dalam semangat nasionalisme yang dimiliki para pahlawan bangsa dapat digambarkan sebagai rasa memiliki sebuah bangsa. Namun generasi muda sekarang ini mengalami proses degradasi nilai-nilai kepahlawanan dan perjuangan. Mereka lebih mengidolakan tokoh-tokoh imajiner yang sering ditampilkan dalam tayangan televisi dan internet. Sementara itu mereka kurang mengenal tokoh-tokoh pahlawan nasional dan daerah maupun.

Menurunnya nilai-nilai kepahlawanan pada generasi muda dapat mempengaruhi terbentuknya karakter bangsa, termasuk tidak mengetahui pahit getirnya. Generasi muda sekarang justru lebih menyukai kebiasaan praktis dan serba instan. Pengaruh utama datangnya dari kesalahan dalam menterjemahkan pemakaian teknologi. Secara efektif dan efesien pemakaian teknologi hanyalah sebagai sarana membantu manusia untuk mempercepat akses informasi. Tetapi tidak dipersiapkan dengan mental atau nilai-nilai kepahlawanan sehingga dampaknya generasi muda sekarang menjadi generasi yang malas, konsumtif, tidak membiasakan diri bertanggungjawab, dan suka jalan pintas.

Untuk mengatasi masalah degredasi nilai-nilai kepahlawanan SMA Negeri 2 Magelang mempunyai peranan untuk mempersiapkan peserta didiknya menjadi generasi yang berkarakter. Dengan mempertimbangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMA Negeri 2 Magelang, maka seluruh agenda kegiatan sekolah harus berpedoman pada kurikulum tersebut. Menurut penulis ada tiga mata pelajaran yang mempelajari nilai-nilai kepahlawanan dalam pembentukan karakter bangsa, yaitu Sejarah, Sosiologi, dan Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan. Kegiatan-kegiatan yang bersifat pengembangan diri peserta didik terdiri dari organisasi dan belanegara seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (Osis) dan Pramuka.

Sehubungan itu, penulis tertarik memilih judul “Nilai-Nilai kepahlawanan Dalam Pembentukan Karakter Bangsa”, dengan alasan adalah Untuk memotivasi agar generasi sekarang mempunyai jiwa nasionalisme dan patriotisme, untuk meneladani semangat perjuangan dari pahlawan, dan memiliki jiwa yang mandiri sehingga memudahkan penulis untuk menjadi generasi yang berakter.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana sikap generasi muda terhadap menurunnya nilai-nilai kepahlawanan?
  2. Bagaimana peranan SMA Negeri 2 Magelang dalam upaya mempersiapkan peserta didiknya untuk menjadi generasi muda yang berkarakter?
  3. Bagaimana realisasi nilai-nilai kepahlawanan dalam pembentukan karekter bangsa?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk menjelaskan sikap pada generasi muda terhadap menurunnya nilai-nilai kepahlawanan.

2. Untuk memahami peranan SMA Negeri 2 Magelang dalam upaya mempersiapkan peserta didiknya untuk menjadi generasi muda yang berkarakter.

3. Untuk menjelaskan realisasi nilai-nilai kepahlawanan dalam pembentukan karakter bangsa.

D. Manfaat Penelitian

1. Dapat memberikan gambaran mengenai sikap generasi muda terhadap menurunnya nilai-nilai kepahlawanan.

2. Dapat memberikan gambaran mengenai peranan SMA Negeri 2 Magelang dalam upaya mempersiapkan peserta didiknya untuk menjadi generasi muda yang berkarakter.

3. Dapat memberikan gambaran mengenai nilai-nilai kepahlawanan dalam pembentukan karakter bangsa.

E. Metode Penelitian

1. Heuristik

Heuristik merupakan kegiatan yang menghimpun jejak-jejak masa lampau atau mencari sumber-sumber sejarah.

2. Kritik Sumber

Kritik sumber merupakan usaha mendapatkan jejak atau sumber sejarah yang benar-benar autentik dan kredibel serta benar-benar mengandung yang diperlukan dan relevan dengan cerita yang akan disusun. Dengan kata lain, melalui kegiatan ini diharapkan bisa memperoleh faktor sejarah yang obyektif.

3. Interprestasi

Interpretasi mempunyai pengertian menafsirkan keterkaitan antar fakta-fakta yang bersesuaian dengan yang lain.

4. Historigrafi

Historigrafi mempunyai pengertian yang berupa langkah penulisan cerita yang susunan yang logis, menurut cerita yang kronlogis kemudian disempurnakan melalui pengaturan bab maupun bagian-bagian agar terbangun urut-urutan yang kronologis dan sistematis (Prijadji, 1997: 13).

BAB II

LANDASAN TOERI

A. Hakekat Nilai

Nilai merupakan pengarahan perilaku dan pertimbangan seseorang (Paul B Horton, Chester L. Hunt.1998:71 ). Nilai merupakan kumpulan sikap perasaan ataupun anggapan tentang sesuatu hal mengenai baik buruk, benar salah, patut tidak patut, mulia hina, penting atau tidak penting (Tim Sosiologi Yudhistira 2003: 99).

Menurut Schwartz nilai merupakan suatu keyakinan, berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, melampaui situasi spesifik, mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta tersusun berdasarkan derajat kepentingannya. www.rumahbelajarpsikologi.com

Rockeach dengan tegas mengatakan bahwa asumsi dasar dari konsep nilai adalah bahwa setiap orang di mana saja memiliki nilai-nilai yang sama dengan derajat yang berbeda ( menunjukkan penegasan terhadap konsep universalti nilai ) www.rumahbelajarpsikologi.com.

Nilai juga dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Untuk generasi muda sekarang ini sedang krisis nilai kepahlawanan dalam membentuk generasi berkarakter. Kepahlawanan merupakan satu perbuatan yang dilakukan seorang dalam mengabdikan diri guna kepentingan yang lebih luas daripada kepentingan dirinya sendiri. Baik itu kepentingan negara, bangsa, masyarakat atau umat manusia (Sayidiman Suryohadiprojo, 1998 ).

Dengan demikian nilai merupakan suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan individu juga digunakan sebagai prinsip atau standar dalam tingkah kaku dalam kehidupannya.

B. Kepahlawanan Dalam Perjuangan Bangsa

Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya Mayor Jenderal Mansergh mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945. Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.

Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.

Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama' serta kyai-kyai pondok jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) juga ada pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.

Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November.

C. Nilai Kepahlawanan Yang Berkarakter

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai perjuangan para pahlawan bangsa. Kata ini dilontarkan untuk mengajak bangsa kita untuk menghormati jasa pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Namun apa daya virus- virus perusak kedaulatan, kemandirian serta kepribadian bangsa dan negara mewabah di negeri kita.

Kebudayaan dan tradisi bangsa diklaim bangsa lain, lapisan masyarakat yang tinggi hingga kebawah pun telah merasakan kenikmatan korupsi, kemiskinan menjamur di beberapa daerah, generasi muda yang tidak tahu arah menuju bangsa yang makmur. Padahal para pejuang bangsa telah mengorbankan jiwa raga untuk memuliakan bangsa ini.

Jika kita memahami perjuangan bangsa para pahlawan itu memiliki semngat kepoloporan yang tinggi. Selanjutnya, kepeloporan dapat menyatu dalam karakter yang sama dengan kepemimpinan yakni berada di muka dan diteladani oleh orang lain. Tetapi, kepeloporan dapat pula memiliki arti sendiri. Kepeloporan jelas menunjukkan sikap maju ke depan, merintis, membuka jalan, dan memulai sesuatu, untuk diikuti, dipikirkan, dilanjutkan dan dikembangkan oleh orang lain. Dalam kepeloporan terdapat unsur menghadapi risiko. Kesanggupan untuk memikul risiko ini penting dalam setiap perjuangan.

Pada zaman modern ini, kehidupan makin kompleks dan penuh risiko. Seperti pernah dikatakan oleh Giddens, modernity is a risk culture. Modernitas memang mengurangi risiko pada bidang-bidang dan cara hidup tertentu, tetapi juga memperkenalkan bentuk risiko baru yang tidak dikenal pada era-era sebelumnya. Untuk itu maka diperlukan ketangguhan, baik mental maupun fisik. Tidak semua orang berani, dapat atau mampu mengambil jalan yang penuh risiko.

Kepeloporan juga bermakna keberanian menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Teuku Umar, dan sederet pahlawan bangsa lainnya yang berani menyatakan bahwa imperialisme dan kolonialisme adalah bentuk ketidakadilan dan karenanya harus dilawan. Kita juga perlu membangun keberanian membela kebenaran. Semangat inilah yang seharusnya dimiliki oleh kaum muda bangsa ini untuk memberikan pencerahan kepada rakyat serta mempersiapkan diri menerima estafet kepemimpinan bangsa http://akarfoundation.wordpress.com/2008/01/09/kepahlawanan-dan-kepemimpinan/

Jika kita memahami perjuangan bangsa pahlawan itu memiliki keteguhan yang tinggi, selalu kukuh terhadap pendiriannya. Maka seorang pahlawan itu tidak mungkin ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

Pahlawan sosok yang tangguh. Ketangguhan dalam zaman ini sangat penting karena di zaman modernitas memang mengurangi resiko pada bidang –bidang dan cara hidup tertentu tetapi juga memperkenalkan bentuk resiko yang baru yang tidak dikenal di era-era sebelumnya. Untuk itu diperlukan ketangguhan baik mental maupun fisik. Tidak semua orang berani, dapat, atau mampu mengambil jalan yang penuh resiko, maka dia selalu siap untuk tidak bergantung kepada orang lain yang disebut mandiri. Kemandirian selalu dibutuhkan untuk tombak kita bahwa kita tidak perlu selalu menjagakan pendapat orang lain, melainkan pendapat kita yang selalu untuk diikuti, dipikirkan, dan dikembanmgkan oleh orang lain.

Kecerdasan mendasari sifat pahlawan. Cerdas adalah cerdik. Seorang pahlawan selalu cekatan dalam mengambil keputusan di saat ada masalah yang tiba- tiba muncul. Dalam melawan penjajah pun pahlawan selalu memakai strategi yang jitu untuk merebut kembali kemerdekan. Bila di zaman ini kecerdasan dibutuhkan untuk membaca situasi dan kondisi, juga memikirkan cara atau memakai trik-trik untuk memajukan bangsa dan negara.

BAB III

NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN DALAM

PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA

A. Tanggapan Generasi Muda

Berbagai diskusi dengan teman-teman telah dilakukan, sehingga penulis mendapatkan berbagai masukan dan tanggapan mengenai tanggapan generasi muda terhadap nilai-nilai kepahlawanan. Generasi muda saat ini menganggap nilai kepahlawanan ialah sifat pahlawan yang semestinya dimiliki oleh setiap orang untuk maju. Banyak juga yang menyadari bahwa nilai kepahlawanan saat ini mulai memudar, seiring berjalannya waktu. Maka dari itu perlu penanaman nilai-nilai kepahlawanan melalui berbagai kegiatan keberlanjutan, dan menjadi bagian dari pembangunan bangsa.

Ada juga yang menganggap sikap toleran dan soliderlah yang diperlukan guna membangun negara. Karena kami merasa keutuhan dan kesatuan bangsa yang mulai berkurang merupakan ancaman tersendiri bagi pembangunan negara dalam rangka meneruskan perjuangan para pahlawan.

Generasi muda saat ini sudah sadar bahwa meekalah para penerus pembangunan yang nantinya akan menggantikan para pemimpin saat ini. Mereka juga menyadari bahwa sifat pemmimpin yang ada dalam diri mereka masih kurang. Oleh karena itu, mereka saat ini tenggah berjuang bersama untuk menjadi oarng yang lebih baik.

Penulis menyimpulkan generasi muda sekarang ini selalu memikirkan panjang lebar tentang pahlawan tetapi mereka tidak bisa mengaplikasikan dan tidak tahu apa yang akan meraka lakukan dengan pemikirannya tentang kusuma bangsa. Walaupun mereka selalu mengaku- ngaku saya itu menghargai pahlawan tetapi dalam kenyataannya mereka bertindak seenaknya apa yang mereka pikirkan dan sombong atas mereka ketahui tentang kepahlawanan. Tetapi berbeda dengan mereka yang tidak mengenal bangku sekolah mereka selalu menghargai dan menjadikan kepahlawan itu jiwanya.

B. Peranan SMA Negeri 2 Magelang

Nilai – nilai kepahlawanan sangat dibutuhkan dalam pembentukan karakter bangsa. Di dalam generasi sekarang tidak dibutuhkannya lagi perang dengan menggunakan fisik melainkan perang melawan kebodohan. Untuk mewujudkan generasi penerus bangsa seperti yang di harapakan oleh pahlawan untuk memuliakan bangsa Indonesia maka generasi muda zaman ini harus mempunyai karakter sesuai potensinya dan nilai-nilai kepahlawanannya tidak luntur ditelan zaman.

Untuk membentuk diri yang berkarakter harus memahami diri kita masing- masing dan menggunakan fasilitas yang ada. Pihak-pihak instansi pendidikan pasti akan mendidik peserta didiknya menjadi penerus bangsa yang berkarakter. Penerus bangsa yang berkarakter yaitu penerus bangsa yang mempunyai sifat yang mencerminkan dirinya beda dari yang lainnya.

Dalam peranannya peserta didik tidak harus ditekankan dalam era perjuangan yang dulu mereka selalu diberi kesempatan dalam memilih sesuai kemampuan dirinya masing-masing. Dalam sekolah ada organisai yang berusaha untuk memajukan sekolah melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Dalam berorganisasi untuk mengembangkan kemampuannya dalam bersosialisasi antar teman, melatih tanggung jawab, emosionalnya, dan yang pasti dalam kemandirian maupun kecerdasan. Pada zaman penjajah dulu kemandirian dan kecerdasan itu sangat penting untuk bertahan hidup, namun pada era ini kecerdasan dan kemandirian digunakan untuk memperolah jati diri yang berkualitas.

Dalam berorganisasi seperti pramuka dan OSIS, peserta didik diajarkan untuk melatih kemandirian dan tanggung jawab hingga bisa mengadakan kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat bagi siswa yang lainnya. Secara tersirat bahwa anak- anak yang ikut dalam pramuka dan OSIS sudah memiliki karakter yang bisa memberi contoh dan diikuti oleh para teman- temannya. Peserta didik yang demikian yang diharapkan oleh bangsa yang dapat memberikan semangat baru dalam perjuangan bangsa.

Dalam pengembangan diri peserta didik mendapatkan kesempatan untuk menggali bakat dan minat melalui kegiatan ekstrakurikuler. Peserta didik tinggal memilih bakat apa yang diminati seperti pramuka, tari, karate, seni batik, kewiraushaan, karya ilmiah remaja, paduan suara, dan volly

Tidak hanya remaja yang mencari jati dirinya sendiri tetapi para guru selalu setia untuk membantu peserta didik dalam menuju generasi yang berkarakter. Biasanya nasehat guru dikaitkan dengan kegiatan belajar mengajar di kelas seperti kemandirian dalam mengerjakan ulangan maupun tugas, jujur dan sportif dalam menerima kekalahan. Diskusi-diskusi sering dipraktekan ketika peserta didik harus mempresentasikan hasil pengamatan misalnya pelajaran sejarah, sosiologi, dan pendidikan kewarganegaraan. Keberanian mengemukakan dan mempertahankan pendapat adalah bagian melatih intelektual agar menjadi generasi yang berani tampil beda. Namun tetap dalam bingkai membangun karakter yang demokratis.

Maka dari itu, membangun generasi yang berkarakter tidak harus seragam. Namun sejak sekarang peserta didik harus diperkenalkan makna perbedaan dalam interaksi akademis, sehingga peserta didik memiliki kompetensi yang benar-benar berkarakter dan berintelektual terbuka.

C. Realisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan Dalam Pembentukan Karakter Bangsa

Pada masa revolusi fisik, di mana perjuangan diidentikkan dengan maju ke garis depan peperangan, motivasi berjuang adalah mengorbankan jiwa raganya untuk satu nama “Indonesia”. Penulis yakin tak ada seorang pejuang pun yang saat itu bercita-cita mendapat gelar “pahlawan”. Kalaupun ada sebagian nama pejuang tanah air yang mendapat gelar tersebut bisa jadi hanya sekedar bonus belaka. Apalagi hampir semua gelar itu diberikan ketika sang empunya nama sudah wafat, baik di medan perang, sakit, pengasingan atau bahkan penjara.

Namun itu terjadi dahulu, ketika gelar “pahlawan” bukan menjadi perdebatan. Ketika orang pada masa itu hanya berpikir bagaimana caranya merdeka serta tetap hidup dan menikmati kemerdekaan yang akhirnya bisa dicapai 64 tahun yang lalu dan generasi sekarang telah terbebas dari penjajahan fisik. Generasi yang mengalami masa penjajahan dengan yang tidak tentu banyak perbedaan, termasuk memaknai kepahlawanan. Bagaimana seharusnya generasi sekarang memaknai kepahlawanan?

Sebenarnya, tanpa perlu ribut-ribut tentang siapa yang lebih pantas disebut pahlawan, atau mengapa tokoh A belum menjadi pahlawan serta mengapa tokoh B baru sekarang disahkan sebagai pahlawan, para tokoh tersebut sudah dianggap pahlawan oleh sebagian masyarakat Indonesia, yang selalu diributkan adalah pengesahannya dari Presiden atau dengan kata lain proses formalitas untuk menghargai seorang tokoh sebagai pahlawan.

Kita ambil contoh Bung Tomo, jauh sebelum pengesahannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun ini, kita telah mengenalnya. Dalam berbagai literatur dokumentasi sejarah yang berkaitan dengan Perang 10 November 1945 di Surabaya pasti tercantum nama Bung Tomo yang pada saat itu memimpin arek-arek Suroboyo dalam pertempuran. Fotonya yang legendaris juga membuat kita semakin mengenalnya bahkan mungkin hafal wajah dan posenya yang khas itu.

Melihat contoh peristiwa Bung Tomo di atas, sesungguhnya ia “hanya” kalah pada proses formalitas saja, nyaris sama dengan kebanyakan tokoh yang juga terlambat di-“pahlawan”-kan.

Kembali kepada masalah memaknai kepahlawanan. Sekarang ini kita hidup di jaman yang berbeda. Saat ini bukan lagi revolusi fisik yang terjadi, tapi revolusi gaya hidup. Maraknya pembangunan dan globalisasi seolah-olah semakin memanjakan masyarakat Indonesia. Hal ini juga diperparah dengan kondisi berbagai aspek di Indonesia yang semakin amburadul. Penegakan hukum yang belum maksimal, krisis ekonomi global memberikan efek berantai ke negara kita, pendidikan yang belum merata, dan lain-lain.

Dengan kondisi seperti itu maka sesungguhnya kepahlawanan yang dibutuhkan bukan sosok yang siap berlaga di medan perang, yang dibutuhkan adalah sosok yang bisa mengisi kemerdekaan dengan cara ikut membangun bangsa lewat pemikiran dan karya sesuai dengan bidang keilmuan atau ketrampilan masing-masing. Memaknai kepahlawanan pun dapat diwujudkan dengan meneladani sifat kepahlawanan. Semangat juang, kegigihan dan pantang menyerah itu adalah beberapa sifat pahlawan yang dapat kita teladani, dari situ kita bisa menghargai jasa para pahlawan serta menindaklanjutinya dengan menerapkan sifat-sifat teladan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat kepahlawanan adalah adalah sesuatu yang langka saat ini, di tengah degradasi moral yang terjadi di Indonesia. Semangat kepahlawanan yang diindikasikan antara lain dengan membuat perubahan, memberi inspirasi juga nampaknya bisa dihitung dengan jari saat ini. Maka sifat kepahlawanan juga berhasil diteladani oleh mereka yang diberikan penghargaan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Daut kepada 21 orang yang memiliki sumbangsih kepada bangsa dan negara tahun 2008 lalu seperti Dik Doank lewat upayanya memberikan pendidikan pada anak-anak kurang mampu, Andy F Noya lewat program Kick Andy yang memberikan inspirasi bagi kaum muda, serta Mahasiswa Universitas Brawijaya Akhmad Zainuri yang meraih prestasi dalam lomba IPTEK.

Kita tidak perlu repot-repot mencari kekuatan super, generasi sekarang bisa menemukan kepahlawanan dengan cara yang sudah penulis sampaikan di atas, bahwa meneladani sifat kepahlawanan kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, sifat kepahlawanan tidak hanya dihayati namun juga menjadi landasan bagi kita dalam melakukan setiap aktivitas.

Dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tidak mungkin sifat-sifat tersebut bisa menjadi karakter dalam diri kita masing-masing. Karakter yang kuat bisa menjadi budaya, dan bisa membentuk karakter masyarakat yang tangguh. Seperti Jepang yang berhasil menghayati, meneladani dan menerapkan sifat kepahlawanan dari kaum Samurai, yang bisa dikatakan ”pahlawan” bagi masyarakat Jepang. Maka jadilah kita mengenal mereka sebagai bangsa yang tangguh, dan seharusnya itu pun terjadi pada negara kita dari pada meributkan mem-”pahlawan”-kan seseorang.

BAB IV

PANUTUP

A. Simpulan

1. Nilai kepahlawanan adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan yang diinginkan seorang pejuang bangsa dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya

2. Perjuangan 10 November merupan perjuangan yang membangkitkan semangat juang rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Bangsa

3. Nilai-nilai kepahlawanan dijadilan dalam landasan untuk membentuk karakter bangsa

B. Saran

  1. Pemerintah seharusnya lebih memikirkan kualitas nasionalisme dan semangat perjuangan dalam generasi penerus bangsa.
  2. Pengetahuan tentang perjuangan bangsa seharusnya lebih ditingkatkan supaya cerita zaman dahulu itu tidak luntur di telan zaman.
  3. Perkembangan globalisasi harusnya tidak menyeret kita untuk meninggalkan identitas dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.
  4. Generasi muda seharusnya mempunyai landasan nilai- nilai kepahlawanan untuk membentuk karakter yang sesuai perkembangan zaman.

DAFTAR PUSTAKA

Rais, Muhammad, Amin. 2008. Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia.Yogyakarta: UGM Press

Darmodjo, Soesantyo. 1994. Catatan Ringan Napak Tilas Dharma Bhakti Eksponen Tentara Genie Pelajar Gunung Tidar Pada Masa Clas Kedua. Magelang: Tidak diterbitkan.

Halim, Amran dan Yayah B. Lumintaintang (ed). 1985. 30 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: PT. Citra Lamtoro Gung Persada.

Horton, Paul B. dan Hunt, Chester C.Sosiologi Edisi Keenam.1999.Jakarta:Penerbit Erlangga.

Moedjanto, G. 1989. Indonesia Abad Ke 20 Jilid 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

--------- 1989. Indonesia Abad Ke 20 Jilid 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Moekhardi. 1982. Magelang Bejuang. Magelang: Akademi Militer.

--------- 1983. Pelajar Pejuang Tentara Genie Pelajar 1945-1950. Surabaya: Yayasan Ex Batalyon TGP XVII.

Notosusanto, Nugroho. 1996. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka.

Prijadji. 1997. Perjuangan Komando Distrik Militer Magelang Pada Masa Revolusi Fisik Antara Tahun 1948-1949. Semarang: Skripsi - Tidak diterbitkan.

--------- 1999. Wehrkreise: Alternatif Hadapi Agresi Militer Belanda Kedua di Magelang. Magelang: Karya Tulis – Tidak diterbitkan.

Ricklefs, M.C.1998.Sejarah Indonesia Modern.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Setyaningsih, Wahyu. 2007. Peranan Tentara Pelajar Magelang dalam Mempertahankan dan Mengisi Kemerdekaan pada Tahun 1948-1949. Magelang: Karya Tulis - Tidak diterbitkan.

Susanto, Sewan. 1985. Perjuangan Tentara Pelajar Dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada Press.

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

www.dpdimmriau.co.cc/2009/01/teorinilai.html

www.rumahbelajarpsikologi.com

http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=45605

http://irwanprayitno.info/artikel/1227583480-siapa-lagi-pahlawan-indonesia-.html

http://www.gemari.or.id/cetakartikel.php?id=2416

http://akarfoundation.wordpress.com/2008/01/09/kepahlawanan-dan-kepemimpinan/

http://ekajazzlover.wordpress.com/2009/08/16/menemukan-kepahlawanan-2/

BIODATA PENULIS

Nama

: Nur Hanah

Tempat tanggal lahir

: Magelang, 14 September 1992

Alamat

: Banjaran RT 01/RW 06, Tempurejo, Tempuran, Kabupaten Magelang

Kelas

: XI IPS 3

Hobi

: Organisasi, Menulis Artikel. Dan Diskusi

Pengalaman di bidang Karya Tulis

:

Magelang, 7 Oktober 2009

Hormat saya

Nur Hanah

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda